Peran LKMA : Sebagai Solusi Pembiayaan Usahatani

ID 864 Di AGRIBISNIS

Penulis : Dinar, S.P., M.P.
(Dosen Tetap Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UNMA)


PERAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKMA) SEBAGAI SOLUSI PEMBIAYAAN USAHATANI DITINGKAT PETANI


Usahatani diperlukan inovasi teknologi guna mendorong peningkatan produktivitas dan produksinya. Kelemahan petani justru pada adopsi inovasi teknologi yang relatif rendah sebagai dampak penguasaan modal usahatani yang lemah. Untuk mengatasi kekurangan modal usahatani, petani biasanya mengusahakan tambahan modal dari berbagai sumber dana baik dari lembaga keuangan formal (perbankan) maupun kelembagaan jasa keuangan non formal.

Namun umumnya karena petani sering tidak memiliki akses terhadap lembaga perbankan konvensional, ia akan memilih untuk berhubungan dengan lembaga jasa keuangan informal seperti petani pemodal (pelepas uang – rentenir), atau mengadakan kontrak dengan pedagang sarana produksi dan sumber lain yang umumnya sumber modal tersebut mengenakan tingkat bunga yang irrasional karena terlalu tinggi dan mengikat. Kondisi demikian berdampak buruk tidak saja bagi petani akan tetapi juga merusak tatanan perekonomian di pedesaan.

Berkenaan dengan hal tersebut, keberadaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) pertanian akan menjadi salah satu solusinya. LKM pertanian memiliki peran strategis sebagai intermediasi dalam aktifitas perekonomian bagi masyarakat tani yang selama ini tidak terjangkau jasa pelayanan lembaga perbankan umum/bank konvensional (Wijono, 2005). Lembaga Keuangan Mikro (LKM) semakin berkembang di perdesaan maupun di perkotaan, mulai dari yang formal (dukungan pemerintah), semi formal hingga yang non formal atau informal. Orientasi LKM lebih ditujukan pada usaha ekonomi non pertanian, sedangkan LKM yang melayani permodalan di sektor pertanian jumlahnya masih terbatas. Sedangkan menurut Hendayana, dkk.  (2007)  inisiatif  pembentukan  LKM  seiring  diluncurkannya  program pembiayaan bagi usaha pertanian oleh Direktorat Pembiayaan Ditjen Bina Sarana Pertanian tahun 2003. LKM diakomodasi dalam struktur kelembagaan Agro Industrial Perdesaan (AIP) pada Program Rintisan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (PRIMATANI) (BPTP, 2010).

LKM kembali dijadikan sarana pemberdayaan bagi Kelompok Tani penerima Penguatan Modal Usaha Kelompok (PUMK) oleh Pusat Pembiayaan Pertanian. Label Agribisnis pun disematkan sehingga menjadi LKM-Agribisnis.

Keberadaan LKM-Agribisnis dalam PUAP menjadi keharusan untuk mengelola keuangan Gapoktan. Menurut Pusat Pembiayaan Pertanian (2007) LKM-Agribisnis dijadikan salah satu unit permodalan Gapoktan yang ditumbuhkembangkan atas inisiatif petani anggota kelompok tani dalam Gapoktan tesebut (BPTP, 2010).

Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) merupakan satu dari sekian banyak lembaga keuangan yang terbentuk dari program-program pemberdayaan masyarakat dalam rangka pengentasan kemiskinan. Lembaga ini terbentuk dari program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang berada di bawah koordinasi Kementerian Pertanian. Wujud dari program PUAP adalah dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebesar Rp 100 juta yang disalurkan langsung ke rekening Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) sasaran program. Dana ini kemudian dikelola oleh unit usaha dalam GAPOKTAN dan di tahun ke-3 sejak penyaluran dana tersebut diharapkan berdiri sebuah Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis yang merupakan unit usaha mandiri milik GAPOKTAN yang pengelolaannya terpisah dari GAPOKTAN itu sendiri.

Secara khusus pembentukan LKM-A bertujuan untuk: 1) Meningkatkan kemudahan akses petani terhadap skim pembiayaan yang disediakan pemerintah atau pihak lainnya 2.)Meningkatkan produktifitas dan produksi usahatani/usaha ternak dalam rangka mendorong tercapainya nilai tambah usahatani 3.) Mendorong pengembangan ekonomi perdesaan dan lembaga ekonomi perdesaan, utamanya Gapoktan. Secara khusus peran dari LKMA yaitu untuk menyediakan modal usahatani bagi petani yang membutuhkan untuk kegiatan usahatani agar tidak meminjam kepada pelepas uang yang keberadaanya sangat merugikan petani.

Usahatani