Budidaya tanaman Gaharu

Agrotani.com – Tanaman gaharu tumbuh sehat di hutan, dalam budidayanya banyak sekali yang wajib kita ketahui, mulai dari teknik pembenihan dan pembibitan, penanaman, pemupukan, penaungan, pemangkasan, serta pengendalian gulma, hama, dan penyakit. Sebenarnya gaharu dibudidayakan gampang-gampang susah, butuh kesabaran dan ketekunan anda dalam berbudidaya tanaman. Hal yang mungkin anda ketahui dari beberapa jenis gaharu yang di jual adalah inti kayu gaharunya yang mahal, namun bagai mana cara dan langkah-langkah menghasilkan hal tersebut ? Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus anda lakukan.

PERBANYAKAN TANAMAN


Tanaman gaharu dapat diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif. Perbanyakan secara generatif menggunakan biji atau anakan, sedangkan perbanyakan vegetatif menggunakan turus, cangkok, atau kultur jaringan. Pembibitan secara Generatif. Pembibitan secara generatif dapat menggunakan benih maupun cabutan (anakan).

Pembibitan Menggunakan Benih


 

Dalam perbanyakan bibit yang akan kita gunakan tidak langsung saja tanam, bibit tanaman gaharu akan menentukan bagaimana anda memulai tanaman ini untuk tumbuh besar dan menentukan kualitas yang akan di hasilkan. Penentuan ini memiliki syarat tumbuh yang bermanfaat baik untuk tanaman kedepanya. Ada beberapa tahapan dalam pembibitan yang perlu diketahui maupun dipersiapkan, antara lain sebagai berikut.

Sebelum anda memilih benih, lihat terlebih dahulu benih memenuhi syarat atau tidak, anda harus mengambil bibit tanaman setidaknya sudah berbuah selama 5 tahun berturut-turut.

Cara pengambilan biji :

Cara pengambilan dapat dilakukan dengan memasang jaring di bawah pohon, kemudian percabangannya digoyang sampai buah/biji yang benar-benar matang berjatuhan dan terkumpul di atas jaring. Jika digoyang-goyang tidak jatuh, sudah dapat dipastikan masih mentah bijinya, jika sudah di ambil maka anda seleksi mana bibit yang baik dan kualitas biji bagus untuk bibit.

Daya kecambah biji tergantung dari tingkat kematangan buah dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Daya kecambah biji 60%. Setelah ditanam, daya tumbuhnya tinggal 10%. Perlakuan perendaman biji dengan berbagai zat tumbuh kurang berhasil.
  2. Daya kecambah biji 70%. Daya tumbuhnya tingga 25 setelah ditanam dan pengaruh zat tumbuh tidak nyata.
  3. Daya kecambah biji 90%. Dengan daya tumbuh mencaba 60% setelah ditanam. Biji yang diperlakukan dengan zat tumbuh selama tiga hari memberikan daya tumbuh sedikit lebih tinggi.

Biji yang berasal dari buah matang sempurna jauh lebih cepat berkecambah daripada biji yang berasal dari buah yang lebih muda. Tingkat kematangan buah dapat dibagi menjadi tiga.

  1. Agak matang, tanda-tandanya adalah kulit buah akan pecah bila sudah tiga hari dipanen, biji tampak tetapi tidak terpisah dari daging buah.
  2. Cukup matang, tanda-tandanya adalah kulit buah akan pecah bila sudah 12 jam dipanen, biji tampak terpisah dari daging buah,
  3. Matang sempurna, yaitu buah pecah sendiri di atas pohon dan jatuh dengan kulit buah masih tergantung di pohon.

Pemungutan buah lebih baik dilakukan pada biji-biji yang jatuh di tanah karena merupakan biji tua dari buah yang matang sempurna. Biji yang sudah terkumpul dicuci dengan air, kemudian direndam selama 2-3 hari dalam air, bila perlu dicampur zat tumbuh dengan konsentrasi 5%.

Air pencuci ditambah larutan fungisida 10 gram/liter air untuk mencegah pertumbuhan jamur. Biji yang sudah diambil tiga hari, tahan disimpan selama 10 hari  (masa dormansinya pendek). Biji gaharu bersifat rekalsitran, yaitu tidak tahan terkena sinar matahari atau panas sehingga harus segera ditanam apabila digunakan untuk benih Apabila akan disimpan, tempat penyimpanan berada pada suhu rendah agar tidak cepat kehilangan kelembapannya. Biji yang kering akan rendah viabilitasnya sehingga rendah pula daya kecambahnya.
2) Persemaian Sebelum melakukan persemaian, ada beberapa tahapan pendahuluan yang perlu dilakukan, antara lain sebao berikut :
a) Membuat Sungkup dan Naungan Tujuan penyungkupan adalah agar kelembapan udara di dalam bedengan teroaga sehingga bibit tidak cepat kering atau kekurangan air. Selain itu, bibit akan terhindar dari serangan hama dan penyakit dari luar Pembuatan naungan dan sungkup dapat dilakuakan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Naungan Buat tiang sebagai kerangka naungan setinggi 2 m dan pasang atap yang terbuat dari daun kelapa atau seedingnet. Atur agar sinar yang masuk antara 65-70%. Sungkup
(1) Buat kerangka sungkup dari bambu atau bahan lain dengan ukuran tinggi 1 m dan lebar 1,5 m, seperti pada gambar.
(2) Tutup seluruh permukaan kerangka sungkup dengan lembaran plastik tipis yang transparan secara tepat.
b) Mempersiapkan Media Media yang baik untuk media persernaian adalah campuran tanah subur, pasir, dan bahan organik ata kompos dengan perbandingan 2:1:1. Cara menyiapkan media pembibitan adalah sebagai berikut.
(1) Ambil tanah subur(top soil), kemudian aduk hingga cukup halus sebanyak dua bagian
(2) Ambil pasir dan campurkan pada massa tanah subur sebanyak satu bagian.
(3) Tambahkan bahan organik, kompos atau pupuk kandang yang sudah jadi sebanyak satu bagian
(4) Aduk semua bahan hingga merata dan bila pertu saring atau ayak untuk menghaluskan bongkahan tanah yang terlalu besar.
(5) Taburkan campuran media tersebut ke atas bedengan dengan ketebalan 20 cm.
(6) Siram media persemaian sampai cukup jenuh dan siap untuk menyemaikan benih (biji) gaharu.

c) Mempersiapkan Benih Secara fisik, buah yang akan diambil bijinya untuk benih harus benar-benar matang. Buah gaharu berbentuk potong, dalam satu buah terdapat satu atau dua biji, umumnya dalam satu buah terdapat satu biji.

Cara mempersiapkan benih yang akan disemas adalah sebagai berikut, Benih dicuci dan direndam dalam air selama dua hari, bila perlu diberi larutan fungisida 5-10 gramniter air untuk menghindarkan jamur. d) Menyemaikan Benuh di Bedengan Sebelum ditanam di polybag, benih perlu disemaikan terlebih dahulu. Sebagai media untuk menyemai kan benih diperlukan bedengan persemaian. Tujuan penyemaian adalah agar bibit yang ditanam di polybag nantinya dapat tumbuh seragam sehingga tidak perlu banyak penyulaman Tempat bedengan persemaian hendaklah dipilih yang dekat dengan bedengan polybag supaya memudahkan pemindahannya ke polybag

Cara mempersiapkan bedengan persemaian adalah sebagai berikut.
(1) Buat petak seluas 1 m, kemudian cangkul tanahnya sedalam 20 cm.
(2) Campur tanah dengan pasir dengan perbandingan satu bagian tanah dan satu bagian pasir Setelah bedengan persema ian siap, benih disemai kan di dalam bedengan tersebut Cara menyemaikan benih di bedengan adalah sebagai berkut.
(1) Taburkan benih yang sudah diperlakukan di atas hamparan bedengan persemaian secara merata, kemudian timbun dengan tanah setebal 2 cm.
(2) Siram tanah timbunan tersebut dengan air sampai jenuh.
(3) Tutup rapat-rapat bedengan persemaian meng- gunakan sungkup
(4) Pelihara persemaian agar tetap basah dan bebas dari gangguan hama/penyakit.
(5) Beberapa waktu kemudian benih akan berkecambah Setelah 1-1,5 bulan di persemaian, bibit siap untuk disapih(dipindahkan) ke polybag

3) Pembibitan di Polybag Benih akan tumbuh setelah disemaikan. Pada umur tertentu, benih yang telah tumbuh atau bibit tanaman harus dipindahkan di media yang permanen.

Salah satu media permanen yang dapat digunakan adalah polybag Car menanam bibit di media polybag adalah sebagai berikut,

a) Membuat Bedengan
(1) Pilih tanah yang datar, dekat dengan sumber air, dan areanya terbuka.
(2) Bersihkan tanah dari rumput dan semak belukar.
(3) Ukur dan buat petak-petak dengan panjang 5-10 m dan lebar 1,5 m,
(4) Cangkul dan tinggikan tanah hingga menjadi bedengan setinggi 20 cm
(5) Ratakan permukaan tanahnya.
(6) Untuk keperluan pembibitan di polybag, dibutuh- kan areal yang lebih luas agar tiap meter persegi dapat memuat t 90 polybag.

b) Membuat Naungan dan Sungkup Pembuatan naungan dan sungkup untuk pem bibitan agak berbeda dengan pembuatan naungan dan sungkup untuk persemaian. Pembuatan naungan dan sungkup untuk pembibitan adalah sebagai berikut Naungan

(1) Naungan dibuat dari kerangka bambu atau bahan lain, sedangkan untuk penaungnya digunakan seeding et 60-75 Ukuran lebar dan panan naungan disesuaikan dengan luas bedengan dan tingginya t 2 m.
(2) Sebaiknya dibuat jalan kontrol di dalam naungan untuk memudahkan pekerjaan di pembibitan Sungkup Sungkup dibuat dengan ukuran panjang 5-10 m(sesuai bedengan), lebar 1,5 m, dan tinggi 1,25-1,50 m. Sungkup dengan ukuran tersebut dapat menampung kurang lebih 675-1.350 polybag. Penutup untuk kerangka sungkup terbuat dari plastik transparan, c) Mempersiapkan Media
(1) Bahan media sebaiknya terdiri atas tanah, bahan organik, dan pasir dengan perbandingan 1.121.
(2) Bahan dihaluskan terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan cara diaduk hingga merata. (3) Masukkan ke dalam polybag ukuran 20 x 20 x 12,5 cm, siram media dengan air sampal jenuh(4) Bahan untuk media harus dalam keadaan kering dU Menanam Bibit d Polybag
(1) By yang sudah berkecambah d persemaian(bibit) satu per satu dpindahkan dan ditanam di media polybag
(2) Pemindahan tanaman(penyapihan) dilakukan secara hati-hati, jangan sampai menimbulkan luka pada kecambah
(3) Sebelum bibit ditanamkan ke dalam media, buat lubang sedalam 5 cm dan selebar ibu jari untuk memasukkan akar ke dalam media
(4) Cabut bibit dari persemaian dengan hati-hati agar tidak melukai akarnya.
(5) Kumpulkan di tempat vang teduh dan segera bawa ke tempat pembibitan polybag.
(6) Tanam bibit ke lubang yang telah disiapkan pada media polybag.
(7) rekan media di sekitar batang dengan mantap supaya kecambah tertanam dengan sempurna dan tidak mudah goyang.

A (8) Setelah seluruh bibit ditanam, siram dengan bersih yang dicampur fungisida dengan konsentrasl 5-10 gram/liter air (9) Tutup rapat-rapat bedengan media polybag dengan sungkup plastik transparan. 4) Pemeliharaan Bibit di Bedengan Setama di bedengan pembibitan, bibit memerlukan pemeliharaan secara intensif seperti berikut.
a) Penyiraman menggunakan sprayer untuk menjaga kelembapan di dalam sungkup.
b) Penyemprotan pestisida untuk mencegah serangan hama/penyakit yang merugikan pembibitan
c) Pada umur 1 bulan, bibit dapat dipupuk dengan urea 2,5 gram/batang
d) Pada umur 2 bulan, ditambah urea 2,5 gram/batang dan pupuk mikro atau organik cair sesuai dosis anjuran
e) Setelah bibit berumur 3 bulan, sungkup mulai dibuka beberapa jam sehari selama 3 minggu, kemudian ditutup kembali
f) Pada umur 4 bulan, ditambah lagi dengan pupuk urea 2,5 gram/batang serta pupuk mikro dan organik cair sesuai dosis anjuran.
Apabila terdapat bibit yang mati atau kurang baik Mer tumbuhannya, sebaiknya segera diganti dengan bibit baru agar pembibitan seragam h) Sebelum dipindahkan ke lahan yang lebih luas atau di lapangan, bibit perlu mendapat perlakuan khusus.

5) Adaptasi Bibit Setelah tanaman dipelihara dalam bedengan selama 6 bulan hingga 1 tahun, tanaman siap dipindahkan di lahan yang lebih luas di lapangan. Perlakuan terhadap tanaman yang siap ditanam di lapangan adalah sebagai berikut.
a) Sebelum bibit ditanam di lapangan, periu dilakukan penyesuaian dengan kondisi iklim di lapangan atau adaptasi lingkungan, antara lain dengan membuka sungkup beberapa waktu kemudian menutupnya kembali.
b) Setelah bibit berumur 4 bulan, sungkup dibuka tetapi tetap diberi naungan. Kemudian, kurangi naungan secara bertahap sampai umur 5-6 bulan
c) Adaptasi yang cukup akan membuat bibit lebih tahan saat ditanam di lapangan

6) Penyaluran Bibit Bibit yang sudah berumur 6 bulan sampai 1 tahun sudah siap untuk disalurkan ke lapangan dengan perlakuan sebagai berikut.
a) Seleksi semua bibit satu per satu dengan teliti, Bibit yang pertumbuhannya sehat dan normal dikumpulkan menjadi satu di tempat yang aman,
b) Bibit hasil seleksi atau yang pertumbuhannya kurang baik dikumpulkan menjadi satu untuk dipelihara dan diperbaiki pertumbuhannya dengan pemeliharaan intensif hingga mencapai keadaan normal
c) Penyaluran bibit ke lapangan atau tempat yang jauh hendaknya dilakukan secara hati-hati agar bibit tetap dalam keadaan baik dan utuh. Agar keamanan bibit terjaga, bila perlu dapat dilakukan pengepakan
b. Pembibitan Menggunakan cabutan Pembibitan menggunakan cabutan ialah pembibitan menggunakan kecambah(bibit anakan) yang tum di sekitar pohon induknya, Bibit anakan yang tumbuh di alam dicabut secara hati-hati, kemudian dikumpulkan. Pembibitan menggunakan cabutan pada prinsipnya sama dengan menggunakan benih dan lebih berhasil dibanding menggunakan biji Cara mencabut bibit vang tumbuh di sekitar induknya sebaiknya dilakukan dengan mencangkul tanah di sekitar anakan terlebih dahulu. Tujuan pencangkulan agar bibit mudah dicabut dan batang tidak mengalami kerusakan, Bibit yang sudah terkumpul hendaknya disusun secara teratur, kemudian diikat 5-100 bibit tiap ikatan. Selanjutnya, ikatan bibit tersebut dabungkus dengan kantong plastik dan jangan sampai terkena terik matahari Setelah sampal di tempat pembibitan, bibit cabutan tersebut dimasukkan ke dalam sungkup terlebih dahulu. Bibit- bibit itu selanjutnya ditanam di media polybag seperti pada pembibitan menggunakan biji Pembibitan dengan cara ini sangat tergantung dari ada tidaknya anakan di sekitar pohon induk dan biasanya jumlah anakan amat terbatas.

2. Pembibitan secara Vegetatif Pembibitan secara vegetatif adalah pembibitan menggunakan bagian dari tanaman(bukan biji) Pembibitan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara menanam turus pucuk dan cangkokan

a. Pembibitan dengan Turus Pucuk pembibitan dengan turus pucuk meliputi beberapa tahap, yaitu penyemaian tanaman, pembibitan di polybag, adaptasi bibit di lingkungan(ungkup), dan penyaluran bibit ke lapangan.
1) Persemaian Turus Pucuk Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut,

Bahan Turus Bahan turus dipersiapkan dengan cara seperti di bawah ini.

(1) Bahan untuk turus pucuk diambil dari ujung ranting yang sudah berwarna hijau kecokelatan dengan garis tengah 0,5 cm.
(2) Ranting yang akan dibuat turus dipotong sepanjang 10 cm dengan posisi miring.
(3) Turus direndam larutan ZPT Rooton 0,2% selama 15 menit.
b) Membuat Media Turus Media untuk menanam turus terbuat dari campuran tanah dan pasir dengan perbandingan 1:1 c) Membuat Naungan dan Sungkup Pembuatan naungan dan sungkup adalah sebagai berikut. Naungan(1) Buat petak tanah dengan ukuran lebar 1,5 m dan panjang 4-5 m.
(2) Di atas petak tanah tersebut dibuat bangunan penaung setinggi 2 m dengan atap dari seedingnet 65% membujur dengan arah utara selatan, Sungkup Buat sungkup plastik transparan berukuran lebar 1,S m dan tinggi 1,25 m sepanjang 4-5 m di bawah naungan
d) Menanam Turus(t) Turus ditanam di media penurusan secara tegak lurus, jangan sampai goyang
(2) Kemudian, turus dasiram dengan air sampat jenuh menggunakan sprayer.
(3) Bila perlu disemprot dengan larutan fungisida.
(4) kemudian, turus ditutup dengan sungkup, usahakan jangan sampai ada bagian yang terbuka/bertubang e) Memelihara Turus Pemeliharaan terhadap turut dilakukan dengan cara menyiram menyemprot apabila kering dan menjaga dan serangan hama/penyakit. Pengendalian hama/penyakit
2) Pembibitan di Polybag Pembibitan dapat dilakuakan di polybag. Langkah- langkah mempersiapkan tempat pembibitan dengan media polybag, antara lain sebagai berikut. aj Membersihkan Lahan Apabila lahan untuk tempat pembibitan masih kotor dan penuh rumput liar ataupun semak-semak, harus dibersihkan dengan cangkul, dibabat, atau menggunakan herbisida(pembasmi rumput)

b) Membuat Bedengan

(1) Buat petak petak calon bedengan dengan ukuran panjang 5-10 m dan lebar 1,5 m.
(2) Buat bedengan pada petak yang sudah ada dengan ukuran panjang S-10 m, lebar 1,5 m, dan tinggi 20 cm.

c) Membuat Naungan dan sungkup Sambil menunggu turus berakar dengan sempurna di bedengan persemaian, buat naungan dan sungkup untuk memelihara bibit setelah dipindah ke polybag Naungan Naungan dibuat dari kerangka bambu dan atap seedingnet dengan ukuran lebar 1,5 m, tinggi 2 m, dan panjang 4-5 m atau sesuai kebutuhan
Sungkup Sungkup dibuat di bawah naungan ukuran lebar 1,5 m, tinggi 1,25 m, dan panjang 4-5 m atau sesuai kebutuhan dengan bahan dari lembaran plastik puti transparan. d) Menyiapkan Media
(1) Media dibuat dari campuran tanah, pupuk organik, dan pasir dengan perbandingan 1:1:1.
(2) Masukkan campuran media tersebut ke dalam polybag.
(3) Susun media pada bedengan di bawah naungan dan siram media dengan air secukupnya sampai jenuh. e) Memindahan Turus ke Polybag(1) Ambil turus yang sudah berakar dari bedengan
(2) Tanam turuske dalam media polybag denganteriebih dahulu membuat lubang tanam menggunakan jari.
(3) Penanaman turus Jangan sampai goyang.
(4) Tutup rapat-rapat semua turus di polybag menggunakan sungkup plastik.
Memelihara Bibit Turus di Polybag
1) Pemeliharaan dilakukan dengan cara menyiram bibit menggunakan sprayer untuk menjaga kelembapa bibit,
2) Pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida sesuai dosis anjuran.
3) Pemeliharaan selama 4 bulan.
3) Adaptasi Bibit Pada bulan ke-4 dimulai tahap adaptasi lingkungan dengan cara membuka sungkup dan mengurangi naungan secara bertahap. Setiap bulan bibit perlu dipupuk menggunakan urea 2,5 gram/batang atau pupuk organik cair sesuai dosis anjuran.

4) Penyaluran Bibit Penyaluran bibit adalah menyalurkan bibit dari bedengan(tempat) pembibitan untuk ditanam di lapangan atau dikirim ke luar daerah. Sebelum bibit disalurkan, perlu dilakukan seleksi untuk memisahkan bibit yang siap salur dan belum siap salur Bibit siap salur adalah bibit yang telah memenuhi standar teknisi dengan tinggi batang 30-40 cm dan bibit batang antara 0,5-1 cm, sedangkan bibit tidak siap salur adalah bibit yang rusak, kerdil, atau tidak sehat, Bibit-bibit yang sudah siap salur dapat segera dikirim ke lapangan untuk ditanam atau dikirim keluar daerah, Bibit yang belum memenuhi syarat dipelihara kembali di bedengan pembibitan untuk diperbaiki pertumbuhannnya. Tahap tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut.

a) Seleksi bibit, yaitu memilh bibit yang sudah meng- alami penyesuaian lingkungan dipisahkan di tempat yang aman, Bibit yang rusak, kerdil, dan tidak sehat dikembalikan ke sungkup atau naungan untuk diperbaiki pertumbuhannya sampai bibit tumbuh dengan baik.

b) Pemindahan, yaitu memindahkan bibit yang sudah memenuhi syarat teknis ke lapangan untuk ditanam atau dikirim keluar daerah.

b. Pembibitan dengan cara Cangkokan Tanaman gaharu dapat diperbanyak dengan dicangkok. Batang yang dapat dicangkok adalah batang yang su berkayu, yaitu dengan memilih percabangan yang tumbuh vertikal. Teknik mencangkok dapat dilakukan dengan cara seperti pada gambar berikut.

(2) Teknik mencangkok Perbanyakan dengan cangkok hanya dapat dilakukan dalam jumlah terbatas sehingga tidak sesuai untuk kebutuhan bibit dalam jumlah banyak. Pencangkokan dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut.

(1) Pilih bahan dari cabang tunas yang tegak dan yang sudah cukup berkayu,
(2) Kupas kulit kayu dengan pisau tajam selebar 3-4 cm
(3) Kerok kambium dan biarkan mengering,
(4) Buat media dari campuran tanah dan kompos(bahan organik).
(5) Tutup bagian yang sudah dikupas menggunakan media,
(6) Bungkus media dengan plastik atau sabut dan ikat erat-erat
(7) Sarami secara teratur setiap hari sampai keluar akar dan siap untuk ditanam di lapangan.
PENANAMAN DI LAPANGAN
Penanaman gaharu dapat dilakukan secara monokultur maupun campuran dengan tanaman keras lain di pekarangan, hutan, maupun di tegalan. Penanaman monokultur artinya dalam satu hamparan lahan hanya ditanam satu macam tanaman, yaitu gaharu. Penanaman campuran artinya dalam satu hamparan lahan ditanami bermacam-macam tanaman, misalnya gaharu ditanam bersama-sama dengan jati dan sengon. Gaharu dapat ditanam di mana saja, baik di lahan subur maupun kritis dan kurus. Tanaman gaharu tidak menuntut syarat khusus karena pada umumnya tidak dipelihara selama puluhan tahun, tetapi hanya tumbuh kurang lebih 6-7 tahun kemudian dipanen dengan cara ditebang.

1. Persiapan Lahan Langkah-langkah persiapan lahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut

a. Membersihkan lahan apabila lahan masih penuh semak belukar dengan cara mencangkul dan membabat semak semak tersebut
b. Membuat ajar/patok sebanyak Jumlah tanaman yang akan ditanam.
c. Memasang ajir sesuai jarak tanam yang dikehendaki dengan pola empat persegi atau segitiga
d. Membuat lubang tanam pada tempat yang sudah ditandai dengan aja. Ukuran lubang so x 50 cm.
e. Memberi pupuk organik/kompos sebanyak 2 kg per lubang
f. Lubang tanam dibiarkan(diangin-anginkan) minimal satu bulan,
g. Menutup kembali lubang tanam sebelum penanaman.

2. Jarak Tanam Gaharu dapat ditanam dengan jarak tanam antara 3 3 5 x 5 m sehingga kepadatan tanaman per hektare antara 400-1.100 tanaman.

Penanaman Agar penanaman berhasil dengan baik, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
a. Mempersiapkan semua bibit dalam polybag di dekat lahan yang akan ditanami.
b. Membuka polybag secara hati-hati dengan menyobek menggunakan pisau yang cukup tajam.
c. Mengusahakan supaya tanah yang membungkus perakaran bibit tidak pecah/remuk. Jika tanah sampai retak, tekanlah dengan tangan agar memadat dan melekat kembali dengan perakaran. Tanah yang retak dapat mengganggu tanaman, bahkan tanaman dapat menjadi layu setelah bibit ditanam.
d. Membuat lubang dengan cara mengangkat timbunan tanah dalam lubang tanam menggunakan tangan sedalam perakaran ke dalam polybag.
e Meletakkan bibit dalam lubang dengan posisi tegak dan secara hati-hati. Usahakan peletakannya berada di tengah-tengan lubang tanam.
f. Menimbun bibit tersebut dengan tanah bekas galian sampal menutup leher akar, kemudian padatkan timbunan tanah
g. Apabila tidak ada hujan, siram dengan air secukupnya
h. Memberikan pestisida butiran sesual dosis anjuran dapat menghindari serangan hama rayap atau uret
i. Membuat pelindung buatan dari daun kelapa untuk menghindari panas matahari yang terlalu menyengat Tanaman gaharu membutuhkan naungan, sebaiknya satu tahun sebelum tanam terlebih dahulu kebun ditanami dengan pohon pelindung, seperti sengon sehingga pada saat tanam tanaman pelindung sudah siap. Apabila beberapa minggu setelah tanam ternyata ada tanaman yang mati, segera ganti dengan bibit yang baru agar kelak pertumbuhan seluruh tanaman seragam.

4. Pemupukan
a. Pemupukan sebaiknya dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu pada awal musim penghujan dan menjelang akhir musim penghujan.
b. 3ka menggunakan pupuk daun, diberikan dengan menyemprotkan. Jika menggunakan pupuk padat. pupuk diberikan dengan cara membuat parit mengelilingi tanaman pada radius 0,75 cm dari pokok tanaman, kemudian pupuk ditabur dan ditimbun tanah
c. Jenis pupuk yang lazim digunakan adalah pupuk anorganik, yaitu pupuk buatan pabrik, seperti Urea, SP36, ZK, KCI, dan NPK. Jangan ragu untuk menambah- kan pupuk organik, yaitu kompos dan pupuk kandang.
d. Pemberian pupuk dilakukan bersamaan dengan waktu penyiangan dan pembumbunan tanaman.
e. Dosis pupuk disesuaikan dengan tahap pertumbuhan(umur) tanaman. Jadwal dan dosis pemupukan untuk tanaman umur 0-7 tahun adalah sebagai berikut.

s Penyuntikan Gubal Tanaman gaharu mulai disuntik inokulum gubal pada uniur enam tahun agar tanaman yang tennfeksi membentuk gu sebagai penghasil inti gaharu

C. PEMELIHARAAN TANAMAN
Setelah tahap penanaman di lapangan, tanaman perlu mendapat pemeliharaan yang baik agar tumbuh sesuai dengan harapan Pemeliharaan tanaman gaharu meliputi pemangkasan, pengendalian gulma, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman

1. Pemangkasan Tanaman gaharu perlu dipangkas supaya pertumbuh annya lebih cepat dan memiliki bentuk baik sehingga bentuk batang menjadi ideal untuk disuntik dan dipanen. Pemangkasan cabang tanaman dapat dimulai pada umur 1-4 tahun dengan menyisakan antara 4-8 cabang di atasnya. Pada umur 3 atau 4 tahun, pohon perlu dipangkas secukupnya supaya tidak terlalu tinggi, tinggi yang diharapkan kurang lebih 3-4 m. Pemangkasan terus dilakukan sampai tanaman berumur 5-6 tahun. Tanaman yang sudah berbuah dapat disuntik jamur gubal gaharu untuk mendapatkan gubal gaharunya.

2. Pengendalian Gulma Gulma adalah tumbuh tumbuhan liar, seperti rumput dan semak yang apabila dibiarkan tumbuh tidak terkendali dapat mengakibatkan terganggunya tanaman pokok. Hal tersebut karena gurna dapat menjadi saingan dalam mendapatkan unsur hara dalarn tanah dan dapat menjadi inang ataupun bertahannya hama tanaman, Terlalu banyak gulma yang tumbuh di pertanaman akan meningkatkan kelembapan di dalam kebun, terutama pada musim penghujan sehingga menjadi lingkungan yang cocok bagi perkembangan penyebab penyakit tumbuhan, seperti jamur. Oleh karena itu, pertumbuhan guitma harus dikendalikan secara teratur dengan tujuan sebagai berikut
a. Tanaman pokok terbebas dari persaingan mendapatkan makanan,
b. Kebun tidak terlalu lembap sehingga dapat mene timbulnya penyakit pada tanaman pokok.
c. Dapat menekan berkembangnya hama yang dapat menyerang tanaman pokok
d. Kebun terlihat bersih dan terpelihara
e. Memudahkan dalam melakukan kegiatan pemeliharaan, seperti pemupukan, pengendalian, hama, dan pemangkasan Cara pengendalian gulma dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a. Pengendalian gulma dilakukan dengan cara mendangir tanah di sekitar tanaman pada radius 0,75 m
b. Pengendalian gulma dapat dilakukan menggunakan herbisida. Apabila menggunakan herbisida harus dilakukan dengan sangat hati-hati supaya tidak mengenai tanaman pokok karena dapat mengakibatkan kematian tanaman.
c. Pengendalian gulma dapat dilakukan sedikitnya 1-2 kali dalam setahun, tergantung keadaan gulma

3. Pengendalian Hansa dan Penyakit Tanaman Terjadinya serangan hama dan penyakit tanaman dapat memperlambat pertumbuhan tanaman, bahkan dapat mematikan tanaman gaharu. Contohnya, penyakit karena serangan jamur yang bukan pembentuk gubat dalam waktu lama dapat mematikan tanaman. Serangan hama ulat daun yang cukup berat dapat mengakibatkan tanaman, terutama yang masih muda menjadi merana sehingga dapat mengakibatkan kematian tanaman, Serangan hama uret dan rayap juga cukup berbahaya karena menyebabkan kerusakan akar dan pangkal pohon. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan pengendalian secara rutin dan teratur agar tidak menimbulkan kerugian Pengendalian hama dan penyakit tanaman hendaknya dilakukan terus-menerus sampai tanaman mencapai umur 4-5 tahun. Pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan kondisi
serangannya, Namun usaha pencegahan harus dilakukan. Pencegahan terhadap terjadinya serangan hama dan penyakit dapat dilakukan dengan cara kimia maupun mekanik Tindakan pencegahan secara kimia dapat dilakukan dengan penyemprotan menggunakan pestisida maupun fungisida. Pencegahan secara mekanis dapat ddakukan dengan cara berikut.
a. Memperbaiki saluran air agar drainase lancar pada musim penghujan.
b. Menambah dan mempertinggi bumbuna tanah di sekeliling pokok tanaman.
c. Menabur pestisida maupun fungisida di sekitar pokok tanaman, minimal satu sendok makan per batang Beberapa hama yang sering menyerang tanaman gaharu, antara lain sebagai berikut

a. Hama pemakan daun(Spodoptera sp pada tanaman bibit maupun dewasa. Hama dapat dikendalikan meng gunakan pestisida kontak atau sistemik.
b. kutu putih, biasanya diikuti pula dengan serangan jamur Fusarium sp. Hama tersebut dapat dikendalikan meng gunakan pestisida sistemik.
c. Hama rayap(Coptotermes sp menggerek kulit dan masuk ke dalam kayu. Serangan rayap sering diikuti dengan pembentukan gubal di sekitar lubang gerekan. Beberapa penyakit yang dapat merugikan tanaman gaharu, antara lain sebagai berikut a. Penyakit rebah varig menyerang di pembibitan, disebabkan oleh jamur.
b, penyakit butai dan keriting, disebabkan oleh virus yang menyerang di pembibitan dan ditularkan oleh serangga.
Cara Menyuntik Gubal Pembuatan Lubang
1) Jarak lubang pertama dengan permukaan tanah 20 cm.
2) Jarak antara satu lubang dengan lubang lainnya 10 cm.
3) Mata bor dan lubang bor disterilkan menggunakan alkohol.
4) Lubang bor dibuat setiap sepertiga lingkaran pohon, Batang yang akan disuntik diukur dan diberi tanda dengan spidol permanen.
5) Setiap menyelesaikan satu lubang, mata bor harus di- sterilkan.
6) Arah lubang miring, kurang lebih 15-30 ke arah atas dengan tujuan agar air hujan tidak masuk ke dalam lubang kedalaman bor sepertiga garis tengah pohon Penyuntikan Gubal

1) Bibit gubal baru dimasukkan ke dalam lubang sampai penuh sebelum lubang menjadi kering dengan cara menekan meng- gunakan spatula yang steril.
2) Lubang yang telah terisi bibit gubal segera ditutup dengan lilin lunak atau gluteks. Penutupan dengan lilin bertujuan agar air tidak masuk ke lubang sebulan sekali lubang perlu dikontrol, ada kebocoran atau tidak
3) Cara lain, lubang yang telah berisi bibit gubal(inokulan) sebaiknya tidak ditutup agar udara bebas masuk ke dalam lubang sehingga inokulan dapat berkembang dengan baik den banyak jaringan kayu yang terinfeksi. Semakin banyak Jaringan yang terinfeksi, produksi gaharu akan semakin

d. Evaluasi Pascapenyuntikan Evaluasi setelah tiga bulan penyuntikan dapat dilakukan untuk mengetahui keberhasilan penyuntikan
1) Pilih secara acak tiga pohon gaharu yang telah disuntik.
2) Tepat di atas atau di bawah tempat penyuntikan dibor lagi.
3) Kayu hasil pengeboran diperiksa warnanya. Bila warna kayu menjadi cokelat dan ketika dibakar berbau wangi, berarti penyuntikan berhasil.
4) Bila hasil pengeboran berwarna putih dan ketika dibakar tidak mengeluarkan arorna harum, berarti penyuntikan tidak berhasil
5) Bila belum berhasil, pemeriksaan diulang tiga bulan kemudian
6) Bila belum berhasil, perlu dilakukan penyuntikan ulang. Dalam pelaksanaannya, penyuntikan harus dilakukan dalam keadaan steril karena bila tidak steril tanaman mudah terkontaminasi mikroba lain yang dapat mengakibatkan kegagalan e. Penyediaan Inokulan Penyedaan inokulan pembentuk gubal baru memerlukan sarana dan prasarana laboratorium yang steril dan tenaga mikrobiologi yang terampil. Oleh karena itu, penyediaan inokulan tidak mungkin dilakukan oleh petani. Penyediaan inokulan hanya dapat dilakukan oleh lembaga terkait dan pemerintah daerah tempat gaharu dikembangkan.

Inokulan yang dikembangkan di laboratorium merup murni dari produksi inokulan murni hasil pemurnuan sekitar kawasan budi daya, Ja(isolasi) pohon gaharu pembentuk gubal yang ditumbuhkan pada media khusus dapat menjadi inokulan untuk inokulasi ke dalam pohon atau akar gaharu sebagai pemacu pembentukan gubal baru. Pemakaian bibit gubal dapat menghindari penebangan gaharu yang sia-sia Pengembangan Inokulan Teknik pengembangan inokulan dapat dilakukan melalui

1) Pah pohon gaharu alami yang sudah terinfeksi jamur
2) Ambil potongan batang atau cabang pohon yang terinfeksi
3) Masukkan preparat ke dalam kotak es untuk dibawa ke
4) Kembangkan spora dari preparat di dalam media, kemudia identifikasi jenis jamurnya sebagai biakan murni
5) kembangkan spora biakan murni ke dalam media padat, seperti serbuk gergaji pohon gaharu
6) Masukkan media padat dalam inkubator pembiakan dalam suhu 24-32 C dan kelembapan 80% selama 1-2 bulan, Masukkan spora yang sudah dibiakkan ke dalam botol dan simpanlah botol dalam freezer inkubator adalah sejenis mikroba yang menyebabkan erjadinya gubal gaharu di dalam batang pohon gaharu yang terinfeksi.

Ada beberapa jenis mikroba yang dapat menimbulkan gubal gaharu pada potion gaharu. Beberapa jenis jamur pembentuk gubal gaharu adalah sebagai berikut Jamur Cytosphaera malaccensis sebagai hasil isolasi dari gubat yang terbentuk pada batang gaharu Aquila Phialophora parastica dapat menginfeksi pohon yang masih hidup dan potongan batang yang sudah mati. Mikoriza abuskular, vesikular pada gubat yang diperoleh dari akar pohon Aquliaria malaccensis

d Jamur Fusarium lateritium, Fusarium popularia, Fosariu rhinocledelita, Fusarium rizoctonia, Fusarium oxisporiu Fusarium bulbigenum, dan Fusanum botryodiplodia, e. Fusarium lateritium merupakan mikroba yang lebih efekti dalam memacu pembentukan gubal gaharu pada pohon Gyrinops versteegii. Jamur tersebut lebih efektif daripada jamur Fusarium populiaria. Semua jenis Fusarium dapat membentuk gubal, terutama Fusarium lateritium. Jamur Lasiodiplodia sp. 9. Jamur Libertelia sp. h, Jamur Trichoderma sp, i Jamur Thielaviopsis sp J Mamur Phytium sp. k. Jamur Scytaladium sp. Cara lain mendapatkan gubal gaharu adalah mirip dengan pembuatan gaharu sisip, yaitu potongan gubat gaharu kecil dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat dengan bor ke dalam pohon, kemudian lubang ditutup dengan lilin. Potongan gubal gaharu berfungsi sebagai inokulan pada pohon gaharu yang masih sehat. Namun, cara tersebut tidak banyak dilakukan dan yang umum dilakukan adalah dengan penyuntikan Fusarium lareritium Pemberian zat stressing agent, yaitu zat pengatur tumbuh yang dapat memanipulasi atau mengkondisikan sistem pertahanan pohon melemah sehingga mempercepat terjadinya infeksi yang dapat membentuk gubal gaharu. pemberian zat stressing agent telah dicoba untuk mendapatkan hasil yang lebih baik Agar tanaman gaharu stres, dapat pula dilakukan dengan cara melukai pohon atau memasukkan karbit ke dalam lubang yang dibuat pada batangnya. Biasanya, Fusar um masuk ke dalam tubuh tanaman secara alami dan membentuk gubal gaharu secara alami pula.


 

Zenzen Zainudhin

Pertanian hampir dikatakan tidak pasti, namun saya memiliki sudut pandang yang berbeda. Semua hal tentang pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan membutuhkan generasi muda. Jadi apa yang akan kamu lakukan ? Saya sedang di


3 Cara terbaik meningkatkan hasil panen padi 100% terbukti
3 Cara terbaik meningkatkan hasil panen padi 100% terbukti
Cara Membuat Pupuk Kandang Yang Baik Dan Benar
Cara Membuat Pupuk Kandang Yang Baik Dan Benar
Cara Budidaya Cabe Rawit Hasil Melimpah
Cara Budidaya Cabe Rawit Hasil Melimpah
Cabe hias pelangi untuk hiasan pekarangan
Cabe hias pelangi untuk hiasan pekarangan
Pupuk super ajaib agar tanaman cabe berbuah lebat
Pupuk super ajaib agar tanaman cabe berbuah lebat

Tinggalkan pesan "Budidaya tanaman Gaharu"