Berita nilai rasio ekspor impor pertanian indonesia

4

Agrotani.com – Neraca perdagangan komoditas hortikultura Indonesia masih belum memuaskan, karena nilai impor lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspor. Pada tahun fiskal 1996 hingga tahun 2001, secara keseluruhan nilai impor masih lebih besar dari ekspor.

Rasio antara nilai ekspor dengan nilai impor untuk periode tersebut rata-rata adalah sebesar 1,09, yang berarti hampir seimbang atau mencapai titik impas. Namun demikian, nilai rasio dari tahun ke tahun sangat variatif. Pada tahun 1996 nilainya sebesar 0,96 namun tahun 1997 turun menjadi 0,52.

NILAI RASIO EKSPOR / IMPOR

Neraca perdagangan yang menguntungkan hanya terjadi pada tahun 1999 yang menghasilkan nilai EM rasio sebesar 2.40. Selanjutnya apabila kitamelihat lebih dalam. yaitu mengenai jenis komoditas ekspor dan impor, ternyata nilai EI rasio dari buah segar beku dan sayuran segar/beku mempunyai nilai yang rendah sekali masing-masing sebesar 0,20 dan 0,27.

Dapat disimpulkan bahwa secara parsial, komoditas hortikultura merupakan komoditas ekspor yang menguntungkan dalam arti mampu mendatangkan devisa negara yang tinggi. Komoditas yang paling menguntungkan antara lain dalam bentuk buah (nilainya 23 kali lebuh besar dari impor), disusul oleh tanaman hias Munga (sebesar SAS kali nilai impor), ayuran kering/olahan 3 kali nilai impor dan aneka tanaman hanya 1,81 kali nilai impor. Namun demikian terlihat jelas bahwa nilai rasio tersebut bervariasi dari tahun ke tahun dengan selisih yang cukup tajam.

Hal ini menunjukkan tingkat teknologi yang belum mapan sepenuhnya sehingga menyebabkan nilai ekspor dan kontinuitas yang tidak stabil. Hal yang perlu diperhatikan dalam kondisi nilai tukar tersebut adalah bagaimana mempertahankan sekaligus menstabilkan kuota ekspor dan meningkatkan teknologi budidaya dan pasca panen Dalam dunia perdagangan, kontinuitas atau rutinitas pasok merupakan syarat utama sehingga tidak memberi kesempatan negara pengekspor lain untuk merebut pangsa pasar yang sudah pasti Permintaan pasar untuk buah tropis dari negara-negara Eropa sangat tinggi.

Untuk itu peluang ini perlu dimanfaatkan. Ekspor komoditas bebuahan dalam bentuk segar mungkin sulit dilakukan, karena pada umumnya produk bebuahan tidak tahan lama yerishalle). Sementara belum diketahui teknis yang bisa menjamin ekspor berbentuk buah segar, maka ekspor berbentuk buah awetan atau olahan dari beku merupakan pilihan yang terbaik seperti terlihat pada Tabel 29, hal tersebut mendatangkan keuntungan yang baryak Hubungan dagang dengan negara Belanda perlu ditingkatkan kembali sebagai pintu gerbang ekspor ke negara-negara Eropa lainnya.

Nilai rasio yang masih sangat rendah adalah dari komoditas produk buah segar/beku dan sayuran beku yang hanya bernilai antara 2002 ? lai berarti bahwa ekspor kita hanya sekitar 20 tidak seimbang bila dibandingkan dengan nilai impor Hal ini juga berarti bahwa devisa negara kita yang terus mengalir keluar negeri taia rata dari tahun 19% hingga 2001 adalah sekitar (Rp. 50 trilliun / tahun). Di masa yang akan datang nilai buah impor ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Hal ini disebabkan karena konsumen buah impor sebagian besar adalah berasal dari golongan masyarakat menengah ke atas yang mendambakan buah berkualitas balk dan nereka mempunyai kemampuan untuk membayar mahal. Sebaliknya masyarakat dari kalangan bawah lebih banyak mengkonsumsi buah mengingat harganya lebih murah.
Namun demikian, kondisi ini masih harus tetap diwaspadai karena bisa saja nanti sesudah pemberlakuan tarif nol, harga buah impor akan terjangkau oleh masyarakat bawah. Dapat dilihat perbandingan antara nilai buah ekspor dan buah impor mulai tahun 1996 hingga 2001.

Produk olahan buah juga merupakan penyumbang devisa negara yang sangat bernilai yaitu sekitar 23 kali. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa industri pengolahan buah harus ditingkatkan karena jenis komoditas olahan meningkatkan sumber devisa Ini berarti produk buah segar, sebagai bahan baku produk olahan, masih memegang peran penting Dengan kata lain, perlu diseminasi teknologi budidaya agar produksi buah nasional semakin meningkat.

Produk buah segar ditingkatkan guna menekan impor, disamping sebagai bahan baku buah olahan.

Untuk meningkatkan citra komoditas buah segar perlu ddakukan program pengembangan terpadu. Program tersebut dapat dimulai dari seleksi pohon induk yang produktif pada waktu musim bebuahan, perbanyakan tanaman pohon terpilih secara besar- besaran, perawatan tanaman serta perbaikan pasca panen.

Di setiap sentra produksi bebuahan harus didirikan pabrik pengolahan produk, baik untuk kalengan maupun dalam bentuk beku Rendahnya produktivitas buah juga bisa disebabkan karena faktor genetis, yaitu inkompatibilitas selain perawatan (agronomi) yang rutin (Ashari, Nilai rasio ekspor impor buah olahan/kering perlu dipertahankan dengan mempertahankan kuota ekspor dan ketepatan waktu pasok.

Namun semuanya itu harus didukung oleh tersedianya bahan baku yang kuat Untuk itu, pembukaan perkebunan bebuahan baru harus dirintis di setiap lokasi sesuai dengan habitatnya masing-masing Program ini perlu dilaksanakan dalam upaya menjaga pasok bebuahan agar bisa rutin, cukup dan stabil setiap musim setiap tahun.

RANGKUMAN
Produktivitas tanaman belualan kita masih belum bisa memenuhi kebutuhan gizi sebagian besar masyarakat Kebutuhan untuk konsumsi bebuahan sebagaimana yang disarankan oleh FAO adalah 64 kg/kapita/tahun.
Konsumsi bebuahan rata-rata 20 penduduk Indonentia baru mencapai 35 kg/kapital/tahun (64%).

Sementara itu konsumsi buah oleh penduduk Thailand sekitar 70 kg/kapita/tahun, bahkan konsumsi bebuahan oleh penduduk Jepang sudah melampaui standar FAO, yaitu 95 kg kapita/tahun atau sekitar 13% Untuk tercukupi kebutuhan betuahan bagi masyarakat, pemerintah harus mengimpornya dari luar negeri. Cukup banyak devisa negara yang dikeluarkan untuk mengimpor bebuahan ini.

Bahkan, rata-rata nilai impor per tahun mulai tahun 1996 hingga tahun 2001 sebesar 2,3 kali nilai ekspor. Naman, ekspor buah olahan kering memerlukan angka yang menggembirakan, yeitu sekitar 23 kali nilai impor buah berarti bahwa produk buah segar untuk bahan baku produk olahan masih memegang kundi penting Nilai rasio ekspor impor buah di alahan kering perlu dipertahankan dengan mempertahankan kuota ekspor ketepatan waktu.

Atrtikel terkait

 

Referensi

  • Ashar, S. 2006. Meningkatkan Keunggulan Bebuahan Tropis Indonesia. Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Hortikultura Pada Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. C.V ANDI OFFSET

Perhitungan Agribisnis