Amonia dan Nitrit

ID 4066

Agrotani.com – Pada budidaya biota akuatik terutama ikan dan udang,  secara intensif di tambak yang menerapkan padat penebaran tinggi dan pemberian pakan dalam Mumlah yang besar dan terus-menerus,  penimbunan limbah kotoran terjadi sangat cepat sebagian besar pakan yang dimakan oleh biota budidaya akan dirombak menjadi daging atau jaringan tubuh,  sedangkan sisanya dibuang berupa kotoran padat (faeces)  dan terlarut (amonia)  Fances dikeluarkan lewat anus,  sedangkan amonia lewat insang (golongan hewan amumowetelic)  Kotoran padat dan sisa pakan tidak termakan adalah bahan organik dengan kandungan protein tinggi yang diuraikan menjadi polypeptide, asam-asam amino, dan akhirnya amonia sebagai produk akhir yang terakumulasi di dalam air tambak.

Di dalam air, amonia terdapat dalam 2 bentuk,  yaina NH4+ atau biasa disebut lonized Ammonia (IA)  yang kurang beracun dan NH3 atau Unionized Ammon(UIA) yang beracun, kedua beatuk amonia tersebut di dalam air berada dalam keseimbangan seperti terlihat dari persamaan reaksi berikut:

Amonia dan Nitrit

NH4+     +    OH     à    NH3   +   H2O
   ß

Makin tinggi pH air tambak, daya racun amonia semakin meningkat. sebab sebagian besar berada dalam bentuk NH,  sedangkan amonia dalam bentuk molekul (NH3)  lebih beracun daripada yang berbentuk ion (NH4+).  Amonia dalam bentuk molekul dapat menembus bagian membran sel lebih cepat dari pada ion NH4+ (Colt dan Amstrong,  1981).

 Secara biologis di alam sebenarnya dapat terjadi perombakan amonia menjadi nitrat(NO3),  suatu bentuk yang tidak berbahaya,  dalam proses nitrifikasi dengan bantuan bakteri nitrifikasi,  terutama Nitrosomonas dan Nitrobacter.  Selain memerlukan bakteri tersebut,  dalam proses perombakan ini juga diperlukan jumlah oksigen yang cukup di dalam air.  Dalam proses nitrifikasi ini diperlukan sumber karbon dan oksigen yang cukup sebagai sumber energi,  seperti terlihat pada reaksi berikut(Poernomo,  1989).


Nitrosomonas    :      29NH4    + 37O2    +    à   C5H72N   +   28NO2 + 57H+26H2O
Nitrobacter      :   96NO2 + 43O2 5CO2 + 2H2  
à   C5H7O2N  + H+  + 96NO3       


Kedua bakteri nitrifikasi tersebut memerlukan banyak oksigen, minimum 80% saturasi untuk proses yang normal. Karena itu, aerasi air tambak akan sangat menunjang proses nitrifikasi, Proses nitrifikasi ini juga terhambat pada PH rendah PH oprimum dalam lingkungan air asin ialah 70-82.

Amonia berada dalam air karena penupukan, kotoran biota budidaya.dan hasil kegiatan jasad renik di dalam pembusukan bahan organik yang kaya akan nitrogen( protein) Senyawaan ini dapat digunakan oleh fitoplankton dan tumbuhan air setelah diubah menjadi nitrit dan nitrat oleh bakteri dalam proses nitrifikasi.

Persentase NH3 dari anonis sotal dipengaruhi oleh salinitas konsentrasi oksigen,  suhu,  dan PH air.  Makin tinggi suhu dan pH air makin tinggi pula persentase konsentrasi NH3 Dalam artian peluang biota budidaya keracunan NH3 lebih besar pada suhu dan pH tinggi. Sebagai contoh pada pH 80 dan suhu 26 Derajat celcius persentase NH3 hanya 5,71 sedangkan pada pH 9,0 dan suhu 30 derajat celcius mencapai 44,84.

Jika pH air tambak tinggi,  daya racun amonia meningkat,  sebab sebagian besar berada dalam NH3,  sedangkan amonia dalam bentuk molekul dapat menembus bagian membran sel lebih cepat daripada ion NH4+. Daya racun juga dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan Calsium (Ca). Daya racun meningkat pada suhu yang lebih tinggi, salinitas rendah, dan kesadahan rendah.
Tabel 2.4 disajikan persentase total amonia dalam hubungannya dengan pH dan suhu.

Persentase total ammonia dalam hubungannya dengan pH dan suhu .


pH

suhu (derajat celcius )

10 15 20 25 30
6,0 0,086 0,027 0,040 0,057 0,081
6,5 0,059 0,087 0,125 0,180 0,250
7,0 0,186 0,273 0,396 0,566 0,799
7,5 0,586 0,859 1,240 1,770 2,480
8,0 1,830 2,670 3,820 5,380 7,460
8,5 5,560 7,970 11,200 15,300 20,300
9,0 15,700 21,500 28,400 36,300 44,600


Sumber; noga 1996

Pengaruh langsung dari kadar amonia tinggi yang belum mematikan ialah rusaknya jaringan insang, di mana lempeng insang membengkak sehingga fungsinya sebagai alat pernapasan akan terganggu.  Sebagai akibat lanjut. dalam keadaan kronis ikan budidaya tidak lagi hidup normal.

Nitrit a (NO2)  juga beracun terhadap biota budidaya karena mengoksidasi Fe2+ di dalam hemoglobi n Dalam bentuk ini kemampuan darah untuk mengikat oksigen sangat merosot.  Kadar 6,4 mg/l NO2-N telah menghambat pertumbuhan sebanyak 50%  udang jenis Prnaeus indica(Wickins,  1976),  sedangkan kadar 18 mg/l NO2-N telah menghambat pertumbuhan sebanyak 35%  pada udang Macrobrachium rosenbegi (Amstrong er al,  1976 dalam Poernomo,  1989),  untuk larva adalah 86 mg/1 NO2-N dan tingkat yuwana ialah 15,4 mg/1 NO2-N.

Akumulasi nitrit di dalam tambak diduga terjadi sebagai akibat tidak seimbangnya antara kecepatan perubahan dari nitrit jadi nitrat dan men dari amonia menjadi nitrit.

 

Amonia